Jumat, 12 Januari 2024

Kaum Quraisy kembali Menemui Abu Thalib

19.57

 

Kaum Quraisy kembali Menemui Abu Thalib

Tatkala kaum Quraisy masih melihat Rasulullah-shallallahu 'alaihi wasallam-bmasih terus melakukan aktivitasnya, tahulah mereka bahwa Abu Thalib tak berkeinginan untuk menghentikan pembelaannya pada Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam- dan hatinya telah bulat untuk memisahkan diri dan memusuhi mereka. Maka sebagai upaya untuk membujuknya, mereka membawa Imarah bin al-Walid bin  al-Mughirah ke hadapannya seraya berujar: wahai Abu Thalib, sesungguhnya ini ada seorang pemuda yang paling gagah dan tampan di kalangan kaum Quraisy, ambilah dia dan engkau boleh menjadi penanggungjawab dan pembelanya. Jadikan dia sebagai anakmu, maka dia jadi milikmu. Lalu serahkan kepada kami keponakanmu yang telah menyelisihi agamamu dan agama nenek moyangmu itu, mencerai-beraikan persatuan kaummu dan menganggap sesat mereka, agar kami bunuh. Ini adalah barter manusia dengan manusia di antara kita.

Abu Thalib menjawab: Demi Allah, sungguh tawaran kalian tersebut sesuatu yang murahan! Apakah kalian ingin memberikan kepadaku anak kalian ini agar aku beri makan dia demi kalian, sementara aku memberikan anakku agar kalian bunuh? Demi Allah! Ini tidak akan pernah terjadi!

Al-Muth'im bin Adi bin Naufal bin Abdi Manaf berkata: demi Allah wahai Abu Thalib, kaummu telah berbuat adil terhadapmu dan berupaya untuk membebaskanmu dari hal yang tidak engkau sukai, jadi apa sebabnya aku lihat engkau tidak mau menerima sesuatu pun dari tawaran mereka?

Dia menjawab: Demi Allah! Kalian bukannya berbuat adil terhadapku, akan tetapi engkau telah bersepakat menghinakanku dan mengkonfrontasikanku dengan kaum Quraisy. Karenanya lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan.

Manakala kaum Quraisy gagal dalam perundingan tersebut dan tidak berhasil membujuk Abu Thalib untuk mencegah Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam- dan menghentikan laju dakwahnya kepada Allah, maka mereka pun memutuskan untuk memilih langkah yang sebelumnya telah berupaya mereka hindari dan mereka jauhi karena khawatir akan akibat serta implikasinya, yaitu langkah mencelakakan Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam-.